Hubbud-Dunya

Akar Penyakit Hati ( Hubbud Dunya )

Share Tulisan

Pondok Pesantren Amaliyyah Qur’ani  ·  amaliyyahqurani.ponpes.id
Seri Tazkiyatun Nafs — Pekan II · Artikel 6 dari 12 (Artikel 3 dari 3 pekan ini, Penutup Pekan)

Ḥubbud-Dunyā: Ketika Cinta Dunia Menjadi Akar Segala Penyakit Hati

Riya’ dan hasad yang telah kita bahas ternyata bukan dua penyakit yang berdiri sendiri—keduanya tumbuh dari satu akar yang sama, tertanam jauh di kedalaman hati yang terlalu mencintai dunia.

Kita telah menempuh perjalanan yang cukup panjang sepanjang pekan ini: mengenal riya’ yang mencampuri niat ibadah dengan keinginan dilihat manusia, lalu mengenal hasad yang membakar kebaikan diri sendiri karena tidak rela melihat nikmat orang lain. Jika direnungkan lebih dalam, kedua penyakit ini sesungguhnya bukan dua persoalan yang berdiri sendiri-sendiri, melainkan dua cabang yang tumbuh dari satu akar yang sama. Pada artikel penutup pekan kedua ini, kita akan menyelami akar tersebut secara langsung: ḥubbud-dunyā, cinta dunia yang berlebihan, sebuah penyakit yang begitu mendasar hingga hampir seluruh penyakit hati lainnya dapat ditelusuri kembali kepadanya.

Mengapa riya’ bisa muncul? Karena ada bagian dari hati yang masih mendambakan pengakuan dan pujian manusia, sesuatu yang bernilai duniawi, lebih dari mendambakan keridaan Allah semata. Mengapa hasad bisa muncul? Karena ada bagian dari hati yang menganggap nikmat dunia, baik berupa harta, jabatan, maupun pencapaian, sebagai sesuatu yang begitu berharga sehingga tidak rela melihatnya dimiliki orang lain. Pada akar keduanya, selalu ada satu benang merah yang sama: hati yang terlalu mencintai dunia, hingga dunia menempati posisi yang seharusnya hanya layak diberikan kepada Allah semata.

Ḥubbud-dunyā bukan berarti mencintai harta, keluarga, atau kenyamanan hidup secara mutlak diharamkan, karena semua itu adalah nikmat yang Allah ciptakan dan diperbolehkan untuk dinikmati. Yang menjadi persoalan adalah ketika cinta tersebut melampaui batas kewajaran, hingga dunia berubah dari sekadar sarana menjadi tujuan akhir kehidupan itu sendiri. Mari kita telusuri bagaimana Al-Qur’an dan hadis menggambarkan hakikat dunia yang sesungguhnya, agar kita dapat menempatkannya secara proporsional dalam hati, bukan menghapusnya sama sekali dari kehidupan kita.

Firman Allah

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ

I’lamū annamal-ḥayātud-dunyā la’ibun wa lahwun wa zīnatun wa tafākhurun bainakum wa takātsurun fil-amwāli wal-aulād.

“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu, serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan.”

— QS. Al-Ḥadīd [57]: 20

Pembahasan

Hubbud-Dunya

Dunia dalam Timbangan Al-Qur’an

Ayat di atas menggambarkan hakikat dunia melalui lima kata kunci yang tersusun secara bertahap, seolah menggambarkan perjalanan hidup manusia dari masa kanak-kanak hingga usia senja. La’ib (permainan) menggambarkan fase kanak-kanak yang dipenuhi permainan tanpa tujuan serius. Lahwun (senda gurau) menggambarkan fase remaja yang dipenuhi hiburan dan kesenangan. Zīnah (perhiasan) menggambarkan fase dewasa muda yang mulai disibukkan dengan penampilan dan kemewahan. Tafākhur (saling berbangga) menggambarkan fase dewasa yang gemar membanggakan status dan pencapaian di hadapan sesama. Dan takātsur (berlomba memperbanyak harta dan anak) menggambarkan fase kematangan yang disibukkan dengan akumulasi kekayaan dan keturunan. Susunan bertahap ini seolah menjadi cermin bagi setiap manusia untuk mengenali di fase mana dirinya sedang berada, dan godaan dunia seperti apa yang paling relevan dengan usia serta kondisi kehidupannya saat ini.

Setelah menggambarkan kelima fase tersebut, Allah menutup ayat ini dengan sebuah perumpamaan yang sangat menohok: dunia diibaratkan seperti hujan yang menumbuhkan tanaman hingga mengagumkan para petani, namun tak lama kemudian tanaman itu mengering, menguning, lalu hancur menjadi debu. Perumpamaan ini menegaskan sifat dasar dunia yang fana dan sementara, betapa pun indah dan mengagumkan ia tampak pada masanya. Ayat ini kemudian ditutup dengan penegasan bahwa kehidupan dunia tidak lain hanyalah matā’ul-ghurūr, kesenangan yang menipu, karena ia membuat manusia lupa bahwa kehidupan yang sesungguhnya kekal justru berada di akhirat.

Penting dicatat bahwa ayat ini tidak menyatakan dunia sebagai sesuatu yang haram atau harus dijauhi sepenuhnya, melainkan menggambarkan hakikatnya secara jujur: sementara, menipu jika dijadikan tujuan akhir, namun tetap bermanfaat jika ditempatkan sebagai sarana menuju akhirat. Para mufasir menjelaskan bahwa penyebutan lima unsur duniawi ini bukan untuk mengharamkannya, melainkan untuk mengingatkan agar manusia tidak terlena hingga lupa pada tujuan penciptaannya yang sesungguhnya. Sebagaimana seorang musafir yang boleh saja menikmati pemandangan indah sepanjang perjalanan, namun tidak boleh berhenti dan menetap di sana hingga lupa pada tujuan akhir perjalanannya.

Sebuah PeringatanAl-Wahn: Penyakit yang Melumpuhkan Umat

Sabda Rasulullah ﷺ

يُوشِكُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمُ الْأُمَمُ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا… قِيلَ: وَمَا الْوَهْنُ؟ قَالَ: حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ

Yūsyiku an tadā’ā ‘alaikumul-umamu kamā tadā’al-akalatu ilā qaṣ’atihā… Qīla: Wa mal-wahn? Qāla: Ḥubbud-dunyā wa karāhiyatul-maut.

“Hampir saja umat-umat lain mengerumuni kalian dari berbagai penjuru, sebagaimana orang-orang lapar mengerumuni hidangan mereka…” Ditanyakan, “Apa itu wahn?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.”

— HR. Abu Dawud no. 4297 & Ahmad 5/278, dari Tsauban raḍiyallāhu ‘anhu (dinilai sahih oleh Syaikh Al-Albani)

Hadis ini memberikan gambaran yang luar biasa tentang dampak sosial dari cinta dunia yang berlebihan, tidak hanya pada individu, tetapi pada peradaban sebuah umat secara keseluruhan. Rasulullah ﷺ menubuatkan suatu masa ketika umat Islam akan berjumlah banyak, namun kehilangan wibawa dan kekuatan di hadapan bangsa-bangsa lain, ibarat buih di lautan yang tampak banyak namun tidak memiliki daya apa pun. Penyebabnya bukan kurangnya jumlah atau sumber daya, melainkan penyakit yang bersarang di dalam hati, yang oleh beliau disebut sebagai al-wahn: gabungan antara cinta dunia yang berlebihan dan rasa takut menghadapi kematian.

Dua unsur dalam wahn ini sesungguhnya saling berkaitan erat. Seseorang yang terlalu mencintai dunia secara alami akan sangat takut kehilangan dunia tersebut, dan kematian adalah puncak dari segala kehilangan itu. Sebaliknya, seseorang yang hatinya tidak lagi terikat berlebihan pada dunia akan menghadapi kematian dengan lebih tenang, karena ia menyadari bahwa kematian bukanlah kehilangan segalanya, melainkan pintu menuju kehidupan yang lebih hakiki. Inilah sebabnya para sahabat Nabi ﷺ, meski hidup dalam keterbatasan materi, justru dikenal sebagai generasi paling berani menghadapi medan perang dan berbagai kesulitan hidup lainnya.

Sejarah mencatat bagaimana pasukan muslim yang jumlahnya jauh lebih sedikit dan perlengkapannya jauh lebih sederhana, berhasil mengalahkan pasukan-pasukan besar dengan persenjataan yang lebih lengkap, bukan karena keunggulan material, melainkan karena kekuatan hati yang tidak lagi terikat pada dunia dan tidak takut menghadapi kematian. Sebaliknya, ketika umat ini mulai dihinggapi al-wahn, sejarah juga mencatat bagaimana kekuatan yang secara jumlah dan materi jauh lebih unggul, justru mudah runtuh dan kehilangan wibawa di hadapan musuh-musuhnya, persis sebagaimana yang dinubuatkan Rasulullah ﷺ dalam hadis ini.

Mengapa Cinta Dunia Disebut Akar Segala Penyakit Hati?

Ada sebuah ungkapan yang sangat populer di kalangan umat Islam, “ḥubbud-dunyā ra’su kulli khaṭī’ah“, cinta dunia adalah pangkal segala kesalahan. Perlu digarisbawahi secara jujur bahwa ungkapan ini, meski begitu masyhur dan sering dikutip, bukanlah hadis sahih dari Rasulullah ﷺ. Para ulama hadis, termasuk Imam Al-Baihaqi sendiri yang meriwayatkannya, menegaskan bahwa ungkapan ini tidak memiliki dasar sebagai sabda Nabi, melainkan lebih dekat kepada perkataan sebagian ulama salaf seperti Al-Hasan Al-Bashri. Kejujuran ilmiah menuntut kita untuk tidak menisbatkan ucapan ini kepada Rasulullah ﷺ, meski kandungan maknanya tetap memiliki nilai kebenaran yang bisa direnungkan sebagai nasihat bijak, bukan sebagai dalil syar’i.

Terlepas dari status periwayatannya, substansi ungkapan tersebut sesungguhnya sejalan dengan banyak dalil sahih lainnya, termasuk hadis tentang al-wahn yang telah kita bahas. Jika ditelusuri satu demi satu, hampir seluruh penyakit hati yang telah dan akan kita bahas dalam seri ini memang bermuara pada cinta dunia yang tidak proporsional. Riya’ lahir dari keinginan mendapatkan pengakuan duniawi berupa pujian dan reputasi. Hasad lahir dari ketidakrelaan melihat orang lain memiliki kenikmatan duniawi yang didambakan. Bahkan pada pekan-pekan mendatang, kita akan menemukan bahwa sifat sombong, kikir, dan berbagai penyakit hati lainnya, pada akarnya, seringkali bermuara pada satu titik yang sama: hati yang menomorsatukan dunia melebihi kedudukannya yang seharusnya. Inilah mengapa artikel ini sengaja diletakkan sebagai penutup pekan kedua, sebagai simpul yang mengikat seluruh pembahasan penyakit hati yang telah kita telusuri.

Pembahasan

Hubbud-Dunya

Menjadi Orang Asing di Tengah Dunia

Sabda Rasulullah ﷺ

كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ

Kun fid-dunyā ka’annaka gharībun aw ‘ābiru sabīl.

“Jadilah engkau di dunia ini seperti orang asing atau musafir yang sekadar lewat.”

— HR. Bukhari no. 6416, dari Ibnu Umar raḍiyallāhu ‘anhumā

Hadis ini merupakan salah satu nasihat paling mendalam yang pernah disampaikan Rasulullah ﷺ, disampaikan langsung sambil memegang kedua pundak Ibnu Umar, menandakan betapa pentingnya pesan ini untuk benar-benar diresapi. Seorang musafir tidak akan disibukkan dengan membangun rumah megah atau menumpuk perbekalan berlebihan di tempat yang hanya ia singgahi sementara, karena ia sadar betul bahwa tujuannya bukan di sana, melainkan di kampung halaman yang menjadi tujuan akhirnya.

Ibnu Umar sendiri mengamalkan nasihat ini dengan cara yang sangat konkret, sebagaimana beliau nasihatkan: jangan menunggu pagi ketika berada di petang hari, dan jangan menunggu petang ketika berada di pagi hari, karena kematian bisa datang kapan saja. Gunakanlah masa sehat sebelum datang masa sakit, dan gunakanlah masa hidup sebelum datang kematian. Nasihat ini bukan ajakan untuk hidup dalam kecemasan, melainkan ajakan untuk hidup dengan kesadaran penuh bahwa waktu di dunia ini terbatas, sehingga setiap detiknya semestinya dimanfaatkan untuk mengumpulkan bekal menuju kehidupan yang kekal, bukan dihabiskan untuk menumpuk sesuatu yang pada akhirnya akan ditinggalkan begitu saja.

Meluruskan PemahamanBukan Zuhud yang Meninggalkan Dunia, tapi Zuhud yang Menempatkan Dunia

Penting untuk meluruskan kekeliruan yang kerap muncul ketika membahas bahaya cinta dunia, yaitu anggapan bahwa solusinya adalah meninggalkan dunia sepenuhnya: menolak bekerja, hidup dalam kemiskinan yang disengaja, atau mengasingkan diri dari segala bentuk kenikmatan duniawi. Pemahaman semacam ini keliru dan bertentangan dengan teladan Rasulullah ﷺ serta para sahabatnya.

Sejarah mencatat bahwa Abdurrahman bin Auf dan Utsman bin Affan raḍiyallāhu ‘anhumā adalah saudagar-saudagar kaya raya yang hartanya dibelanjakan secara luar biasa di jalan Allah, namun keduanya tetap termasuk sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga. Zuhud yang sesungguhnya bukanlah tentang seberapa sedikit harta yang dimiliki seseorang, melainkan tentang di mana posisi harta tersebut berada dalam hatinya. Seorang yang memiliki harta melimpah namun hatinya tidak terikat padanya, siap melepaskannya kapan saja diperlukan di jalan Allah, adalah seorang zahid sejati. Sebaliknya, seorang yang hidup miskin namun hatinya terus-menerus meratapi dan mendambakan harta duniawi, sesungguhnya belum bebas dari cengkeraman cinta dunia.

Ibnul Qayyim al-Jauziyyah dalam berbagai karyanya menegaskan bahwa dunia yang tercela bukanlah dunia dalam pengertian harfiahnya, melainkan segala sesuatu yang memalingkan hati dari Allah. Sebaliknya, harta dan kenikmatan dunia yang digunakan sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, seperti dibelanjakan untuk sedekah, pendidikan, atau kebutuhan keluarga dengan niat ibadah, bukan termasuk dunia yang tercela, melainkan bagian dari ladang akhirat yang ditanam di dunia. Dengan pemahaman ini, seorang muslim tidak perlu merasa bersalah untuk bekerja keras mencari rezeki, selama hatinya tetap terjaga agar tidak diperbudak oleh apa yang dicarinya.

Sebuah kaidah sederhana yang sering diajarkan para ulama untuk mengukur hal ini adalah dengan bertanya: siapa yang mengendalikan siapa? Jika seseorang yang mengendalikan hartanya, mengaturnya sesuai kehendak syariat, membelanjakannya untuk kebaikan, dan siap melepaskannya kapan saja diperlukan, maka ia adalah tuan atas dunianya. Namun jika hartanya yang justru mengendalikan dirinya, membuatnya cemas berlebihan, rela mengorbankan prinsip demi mempertahankannya, atau bahkan rela meninggalkan kewajiban agama demi menjaganya, maka sesungguhnya ia telah menjadi budak dari dunia yang seharusnya ia kuasai.

Refleksi DiriMengukur Kadar Cinta Dunia dalam Hati

Karena cinta dunia adalah sesuatu yang alami dan tidak sepenuhnya bisa dihindari, yang perlu terus dievaluasi bukanlah ada atau tidaknya cinta tersebut, melainkan kadarnya, apakah masih dalam batas wajar atau telah melampaui posisi yang seharusnya di dalam hati.

Pertanyaan pertama: bagaimana reaksi hati ketika kehilangan sesuatu yang bersifat duniawi, misalnya kehilangan harta, jabatan, atau barang kesayangan? Jika kehilangan tersebut memicu kesedihan yang mendalam hingga melalaikan ibadah dan mengganggu hubungan dengan Allah dan sesama dalam waktu yang lama, ini adalah tanda bahwa cinta dunia telah menempati posisi yang terlalu besar dalam hati, melebihi porsi yang semestinya.

Pertanyaan kedua: seberapa besar waktu, pikiran, dan energi yang dicurahkan untuk urusan duniawi, dibandingkan dengan yang dicurahkan untuk urusan akhirat? Bukan berarti mencari nafkah adalah sesuatu yang tercela, namun jika seluruh waktu dan pikiran habis untuk dunia tanpa menyisakan ruang sedikit pun bagi ibadah, dzikir, dan perhatian terhadap akhirat, keseimbangan tersebut patut dipertanyakan kembali.

Pertanyaan ketiga: apakah pencapaian duniawi menjadi ukuran utama dalam menilai kesuksesan diri sendiri maupun orang lain? Jika seseorang secara otomatis menganggap orang yang lebih kaya sebagai lebih baik, dan orang yang hidup sederhana sebagai kurang beruntung, tanpa mempertimbangkan sama sekali kualitas keimanan dan akhlak mereka, ini menandakan bahwa standar duniawi telah menggantikan standar akhirat dalam cara memandang kehidupan. Ketiga pertanyaan ini sebaiknya diajukan secara berkala, bukan hanya sekali, karena kadar cinta dunia dalam hati bisa naik turun mengikuti keadaan dan godaan yang dihadapi dari waktu ke waktu.

Relevansi Hari IniḤubbud-Dunyā dalam Balutan Budaya Konsumerisme

Jika di masa lampau cinta dunia lebih banyak berwujud penumpukan harta secara fisik, hari ini ia hadir dalam bentuk yang jauh lebih canggih dan menggoda: budaya konsumerisme yang terus-menerus menciptakan kebutuhan baru, gawai yang harus diperbarui setiap tahun meski yang lama masih berfungsi baik, gaya hidup yang harus disesuaikan dengan standar yang terus bergeser naik. Industri periklanan modern, disadari atau tidak, bekerja dengan satu tujuan utama: menumbuhkan rasa tidak puas terhadap apa yang telah dimiliki, agar manusia terus mengejar sesuatu yang baru tanpa henti.

Fenomena FOMO (fear of missing out), rasa takut tertinggal dari tren atau pengalaman yang sedang populer, adalah wujud kontemporer dari al-wahn yang telah dijelaskan Rasulullah ﷺ empat belas abad silam. Ketakutan kehilangan momen duniawi ini seringkali mendorong seseorang mengambil keputusan finansial yang tidak bijaksana, memaksakan diri hidup di luar kemampuan demi validasi sosial, atau bahkan mengorbankan waktu ibadah dan keluarga demi mengejar pengalaman yang dianggap tidak boleh terlewat. Semakin deras arus informasi tentang kehidupan orang lain yang tampak lebih menyenangkan, semakin besar pula tekanan batin untuk terus mengejar sesuatu yang sesungguhnya tidak pernah benar-benar memberikan ketenangan.

Dunia kerja modern juga tidak luput dari jerat hubbud-dunya, terutama melalui budaya hustle culture yang mengagungkan kesibukan tanpa henti sebagai satu-satunya jalan menuju kesuksesan. Ketika karier dan pencapaian profesional dijadikan satu-satunya tolok ukur nilai diri seseorang, tanpa ruang bagi ibadah, keluarga, maupun ketenangan batin, sesungguhnya sedang terjadi pergeseran orientasi hidup dari akhirat sebagai tujuan utama, menjadi dunia sebagai satu-satunya yang dikejar. Padahal, Al-Qur’an telah mengingatkan bahwa dunia hanyalah kesenangan yang menipu, betapa pun gemerlap tampilannya.

Bahaya ini juga tidak sepenuhnya asing dari dunia pendidikan dan pengasuhan anak. Ketika orang tua menanamkan sejak dini bahwa tujuan hidup adalah mengejar nilai akademik tertinggi, karier paling bergengsi, dan penghasilan paling besar, tanpa disertai penanaman kesadaran akan tujuan akhirat, anak-anak tumbuh dengan orientasi hidup yang sepenuhnya duniawi sejak usia belia. Pendidikan yang seimbang seharusnya menanamkan kesadaran bahwa pencapaian duniawi bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana yang bisa digunakan untuk kebaikan yang lebih besar, jika dikelola dengan niat dan cara yang benar.

Menariknya, bahaya cinta dunia yang berlebihan juga bisa menyusup ke dalam aktivitas yang tampak religius sekalipun, misalnya ketika seseorang mengejar popularitas sebagai konten kreator dakwah semata demi penghasilan dan ketenaran, hingga substansi dakwahnya terdesak oleh pertimbangan algoritma dan tren. Di sinilah pentingnya terus kembali kepada pertanyaan mendasar yang telah kita bahas sejak artikel pertama seri ini: apakah yang kita kejar hari ini murni karena Allah, ataukah karena dunia yang menyamar dalam balutan istilah-istilah keagamaan?

Amaliyah · Langkah Praktis

Menempatkan Dunia pada Posisinya yang Semestinya

  1. Sebelum membeli sesuatu yang bersifat keinginan, bukan kebutuhan, beri jeda waktu semalam untuk merenung: apakah ini benar-benar dibutuhkan, ataukah sekadar dorongan mengikuti tren atau validasi sosial dari lingkungan sekitar?
  2. Rutinkan mengingat kematian setiap hari, misalnya dengan berziarah kubur secara berkala atau sekadar merenungkan bahwa hidup ini bisa berakhir kapan saja, sebagai penyeimbang alami dari kecintaan berlebihan terhadap dunia.
  3. Tetapkan porsi harta yang disedekahkan secara rutin, sekecil apa pun jumlahnya, sebagai latihan melepaskan cengkeraman dunia dari hati secara bertahap dan konsisten, bukan sekali waktu ketika hati sedang tergerak saja.
  4. Evaluasi kembali standar yang digunakan untuk menilai kesuksesan diri sendiri: apakah masih didominasi ukuran duniawi semata, ataukah sudah mulai menyertakan ukuran keimanan dan kebermanfaatan bagi sesama sebagai pertimbangan utama?
  5. Batasi waktu mengonsumsi konten yang memicu gaya hidup konsumtif, seperti unggahan belanja atau gaya hidup mewah, dan gantikan dengan konten yang menumbuhkan kesadaran akhirat serta rasa cukup atas nikmat yang telah dimiliki.
  6. Perbanyak doa memohon agar dunia tidak menjadi cita-cita terbesar dan puncak ilmu, sebagaimana diajarkan dalam sebagian riwayat, karena permohonan yang rutin akan membentuk kesadaran yang juga rutin dan mengakar dalam hati.

KhatimahPenutup Pekan Kedua

Sampai di sini, kita telah menuntaskan tiga penyakit hati yang paling mendasar sepanjang pekan kedua seri ini: riya’ yang merusak hubungan dengan Allah, hasad yang merusak hubungan dengan sesama sekaligus membakar kebaikan diri sendiri, dan hubbud-dunya yang ternyata menjadi akar yang menumbuhkan keduanya. Ketiganya bukan penyakit yang terpisah, melainkan satu rangkaian yang saling terkait erat, bermula dari hati yang keliru menempatkan dunia melebihi kedudukannya yang semestinya.

Kabar baiknya, sebagaimana telah kita tegaskan berulang kali sepanjang seri ini, mengenali penyakit adalah langkah pertama yang paling menentukan sebelum mengobatinya. Pekan ketiga mendatang akan mengalihkan fokus kita dari diagnosis menuju terapi: bagaimana caranya membersihkan dan menyembuhkan jiwa dari penyakit-penyakit yang telah kita kenali ini, dimulai dari muhasabah, seni menghisab diri sebelum datangnya hari perhitungan yang sesungguhnya.

Melihat kembali perjalanan dua pekan yang telah kita tempuh, ada satu benang merah yang terus berulang: setiap penyakit hati, betapa pun berbeda gejalanya, selalu bermuara pada satu persoalan mendasar, yaitu keliru menempatkan sesuatu yang seharusnya menjadi sarana sebagai tujuan akhir. Dunia yang seharusnya menjadi ladang bercocok tanam bagi akhirat, keliru diperlakukan sebagai tujuan itu sendiri. Menyadari kekeliruan ini bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal dari perjalanan tazkiyatun nafs yang sesungguhnya, yang akan terus kita tempuh bersama pada pekan-pekan berikutnya.

Semoga Allah menempatkan dunia hanya di tangan kita, bukan di dalam hati kita, sebagaimana nasihat yang sering diulang oleh para ulama salaf. Semoga pula Allah menjadikan kita hamba-hamba yang menjadikan dunia sebagai ladang menanam kebaikan untuk akhirat, bukan sebagai tujuan akhir yang memperbudak hati. Wallāhu a’lam bish-shawāb, dan hanya kepada Allah kita memohon pertolongan. Āmīn.

Referensi (Marāji’)

  1. Al-Qur’an surah Al-Ḥadīd [57]: 20.
  2. HR. Abu Dawud no. 4297 & Ahmad 5/278, dari Tsauban, tentang al-wahn (dinilai sahih oleh Syaikh Al-Albani).
  3. HR. Bukhari no. 6416, dari Ibnu Umar, tentang menjadi orang asing di dunia (juga dikenal sebagai Hadis Arbain Nawawi ke-40).
  4. Al-Baihaqi, dinukil dalam berbagai kitab, tentang status ungkapan “ḥubbud-dunyā ra’su kulli khaṭī’ah” yang bukan hadis sahih dari Nabi ﷺ.
  5. Ibnul Qayyim al-Jauziyyah. Madārij as-Sālikīn dan Al-Fawā’id, pembahasan tentang zuhud dan kedudukan dunia di hati.
Dr. H. Ali Husan., M.I.Kom
Pengasuh Ponpes Amaliyyah Qur’ani

Pengasuh Pondok Pesantren Amaliyyah Qur’ani yang aktif mendakwahkan penyucian jiwa dan pendidikan hati melalui tulisan, kajian, serta media sosial dengan sapaan @DoktorHati. Melalui Amaliyyah Qur’ani, beliau mengajak umat untuk kembali menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman utama dalam merawat hati, sekaligus menghadirkan kajian tazkiyatun nafs yang membumi dan mudah diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam menempatkan dunia secara proporsional agar tidak menjadi berhala tersembunyi di dalam hati umat yang sibuk mengejarnya.

Amaliyyah Qur’ani
Menyucikan Jiwa, Menghidupkan Hati · amaliyyahqurani.ponpes.id
© 2025 Pondok Pesantren Amaliyyah Qur’ani · Ditulis oleh Dr. H. Ali Husan., M.I.Kom

 


Share Tulisan
Scroll to Top