Hasad dan Dengki: Api yang Membakar Kebaikan Diri Sendiri
Seperti api yang lebih dulu menghanguskan kayu yang menyalakannya sebelum menjalar ke tempat lain, hasad lebih dulu membakar hati pemiliknya sebelum sempat menyentuh orang yang didengki.
Pada artikel sebelumnya, kita membahas riya’, penyakit hati yang merusak hubungan seorang hamba dengan Allah dengan cara mencampuri niat ibadahnya dengan keinginan dilihat manusia. Kini, kita beralih kepada penyakit hati kedua yang tidak kalah berbahaya, namun bekerja pada arah yang berbeda: hasad, atau dengki. Jika riya’ merusak hubungan vertikal seorang hamba dengan Rabb-nya, hasad justru merusak hubungan horizontal seorang hamba dengan sesama manusia, sekaligus membakar habis pahala kebaikannya sendiri dari dalam.
Hasad adalah perasaan tidak senang melihat orang lain memperoleh nikmat, disertai keinginan agar nikmat tersebut lenyap darinya. Perasaan ini begitu manusiawi sehingga hampir setiap orang pernah merasakannya dalam kadar tertentu: melihat rekan kerja mendapat promosi yang diidamkan, melihat tetangga membeli rumah baru, atau melihat teman sebaya lebih dahulu menikah dan memiliki momongan. Namun ketika perasaan itu dibiarkan tumbuh tanpa dikendalikan, ia berubah menjadi penyakit hati yang menggerogoti diri sendiri jauh lebih dahsyat daripada dampaknya kepada orang yang didengki.
Betapa seringnya kita mendengar nasihat “jangan iri, jangan dengki”, namun jarang benar-benar memahami mengapa larangan ini begitu ditekankan dalam ajaran Islam, bahkan diabadikan dalam salah satu doa perlindungan yang diajarkan langsung oleh Allah melalui Al-Qur’an. Mari kita telusuri bersama, mengapa hasad disebut sebagai api yang justru lebih dahulu membakar diri sendiri, sebelum sempat menjalar kepada orang yang menjadi sasarannya.
Berbeda dengan riya’ yang cenderung menjangkiti orang-orang yang tampak rajin beribadah, hasad justru bisa menjangkiti siapa saja tanpa memandang tingkat keberagamaan seseorang, karena akarnya bukan pada ibadah, melainkan pada perbandingan sosial yang hampir mustahil dihindari dalam kehidupan bermasyarakat. Inilah yang membuat hasad menjadi salah satu penyakit hati yang paling universal, menjangkiti orang saleh maupun orang awam, orang kaya maupun orang miskin, selama hatinya belum dilatih untuk rida terhadap pembagian rezeki yang telah Allah tetapkan.
وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ
Wa min syarri ḥāsidin iżā ḥasad.
“Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki.”
— QS. Al-Falaq [113]: 5
PembahasanHasad: Ketika Nikmat Orang Lain Terasa sebagai Ancaman
Secara bahasa, ḥasad berarti mengharapkan hilangnya nikmat yang dimiliki orang lain. Para ulama akhlak menjelaskan bahwa hasad bukan sekadar perasaan cemburu biasa, melainkan sebuah keinginan aktif agar kebaikan yang dinikmati orang lain itu sirna, baik keinginan itu disertai upaya nyata untuk menghancurkannya, maupun sekadar tersimpan sebagai harapan dalam hati. Ayat di atas menempatkan hasad sejajar dengan kejahatan sihir dan kegelapan malam sebagai tiga hal yang perlu dimintakan perlindungan khusus kepada Allah, menandakan betapa seriusnya bahaya yang ditimbulkannya.
Yang menarik dari surah Al-Falaq, seluruh permohonan perlindungan di dalamnya bersifat umum, kecuali pada ayat terakhir yang secara spesifik menyebut “orang yang dengki apabila ia dengki”. Para mufasir menjelaskan bahwa penyebutan yang lebih rinci ini menunjukkan betapa hasad adalah kejahatan yang sangat halus dan sulit dideteksi, karena ia bersembunyi di balik senyuman, pujian yang dipaksakan, atau bahkan kebaikan yang tampak tulus, padahal di baliknya tersimpan harapan agar nikmat orang lain lenyap.
Surah Al-Falaq termasuk salah satu dari Al-Mu’awwidzatain, dua surah pendek yang oleh Rasulullah ﷺ dianjurkan untuk dibaca setiap pagi dan petang, serta menjelang tidur, sebagai benteng perlindungan harian dari berbagai kejahatan, termasuk kejahatan hasad. Kebiasaan ini menunjukkan bahwa Islam tidak hanya mengajarkan larangan berbuat hasad, tetapi juga membekali setiap muslim dengan perlindungan bagi mereka yang berpotensi menjadi korban hasad dari orang lain. Sebab, hasad sesungguhnya adalah kejahatan dua arah: merugikan pelakunya sendiri secara spiritual dari dalam, sekaligus berpotensi mendatangkan gangguan bagi orang yang menjadi sasarannya dari luar.
PembahasanLarangan Tegas terhadap Sifat Dengki
لَا تَحَاسَدُوا، وَلَا تَنَاجَشُوا، وَلَا تَبَاغَضُوا، وَلَا تَدَابَرُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا
Lā tahāsadū, wa lā tanājasyū, wa lā tabāghaḍū, wa lā tadābarū, wa kūnū ‘ibādallāhi ikhwānā.
“Janganlah kalian saling mendengki, saling menipu, saling membenci, dan saling membelakangi (memutus hubungan). Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.”
— HR. Muslim, dari Abu Hurairah raḍiyallāhu ‘anhu
Hadis ini menempatkan larangan hasad sejajar dengan larangan-larangan lain yang secara langsung merusak persaudaraan: menipu, membenci, dan memutus hubungan. Ini menunjukkan bahwa hasad bukanlah persoalan personal yang hanya berdampak pada diri pelakunya, melainkan racun sosial yang berpotensi meruntuhkan ukhuwah dan keharmonisan antar sesama muslim. Seorang pendengki, cepat atau lambat, akan kesulitan menjalin persaudaraan yang tulus, karena hatinya senantiasa sibuk membandingkan dan mengukur pencapaian orang lain, alih-alih turut berbahagia atas kebaikan yang mereka peroleh. Rasulullah ﷺ menutup hadis ini dengan seruan persaudaraan, seolah menegaskan bahwa lawan sejati dari hasad bukanlah sekadar menahan diri, melainkan secara aktif membangun ukhuwah yang tulus dengan sesama.
Hasad dan Ghibthah: Dua Hal yang Sering Tertukar
Penting untuk membedakan antara hasad dengan ghibthah, sebuah istilah yang juga berkaitan dengan keinginan terhadap nikmat orang lain, namun memiliki hakikat yang sangat berbeda. Jika hasad adalah keinginan agar nikmat orang lain lenyap, ghibthah adalah keinginan untuk memperoleh kebaikan serupa dengan yang dimiliki orang lain, tanpa sedikit pun berharap kebaikan tersebut hilang darinya. Ghibthah bersifat positif dan bahkan dianjurkan dalam dua perkara tertentu, sebagaimana disebutkan dalam hadis berikut.
لَا حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَسُلِّطَ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الْحَقِّ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْحِكْمَةَ فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا
Lā ḥasada illā fitsnataini: rajulun ātāhullāhu mālan fasullita ‘alā halakatihī fil-ḥaqq, wa rajulun ātāhullāhul-ḥikmata fahuwa yaqḍī bihā wa yu’allimuhā.
“Tidak boleh hasad (iri) kecuali dalam dua perkara: seseorang yang diberi harta oleh Allah lalu ia habiskan di jalan kebenaran, dan seseorang yang diberi hikmah (ilmu) oleh Allah lalu ia amalkan dan ajarkan kepada orang lain.”
— HR. Bukhari & Muslim, dari Ibnu Mas’ud raḍiyallāhu ‘anhu
Hadis ini menggunakan kata “hasad” secara majazi untuk menunjuk pada ghibthah, karena dalam percakapan sehari-hari orang Arab kadang menggunakan kedua istilah secara bergantian, meski hakikatnya berbeda. Maksud dari hadis ini adalah bolehnya, bahkan dianjurkannya, seseorang berkeinginan memiliki kebaikan serupa dengan yang dimiliki orang lain, dalam dua hal: harta yang dibelanjakan di jalan kebaikan, dan ilmu yang diamalkan serta diajarkan kepada orang lain. Keinginan semacam ini sehat dan produktif, karena ia mendorong seseorang untuk berlomba dalam kebaikan, bukan berharap kebaikan orang lain lenyap.
Perbedaan mendasar antara keduanya terletak pada orientasinya. Hasad berorientasi pada kerugian orang lain: seseorang merasa lega dan puas ketika nikmat yang didengkinya benar-benar hilang, meski dirinya sendiri tidak mendapatkan keuntungan apa pun dari hilangnya nikmat tersebut. Ghibthah berorientasi pada peningkatan diri sendiri: seseorang terpacu untuk turut meraih kebaikan serupa, sembari tetap mendoakan kebaikan bagi orang yang telah lebih dahulu memperolehnya. Mengenali perbedaan ini penting, agar semangat kompetitif yang sehat tidak keliru dianggap sebagai dosa, sementara dengki yang sesungguhnya justru dibiarkan tumbuh tanpa disadari.
Sebagai ilustrasi, bayangkan dua orang yang sama-sama melihat rekannya berhasil menghatamkan hafalan Al-Qur’an. Orang pertama merasa termotivasi, lalu mulai menyusun jadwal menghafal untuk dirinya sendiri, sembari mendoakan agar hafalan rekannya senantiasa terjaga. Inilah ghibthah, keinginan yang sehat dan produktif. Orang kedua justru merasa terganggu, mulai mencari-cari kekurangan dalam bacaan rekannya untuk menutupi rasa tidak nyamannya, atau diam-diam berharap rekannya lupa sebagian hafalannya. Inilah hasad, keinginan yang merusak dan tidak berbuah kebaikan apa pun, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain.
Kisah yang MenggugahHasad Pertama dalam Sejarah Manusia
Al-Qur’an mengabadikan kisah pertama tentang hasad dalam sejarah manusia, yaitu kisah dua putra Nabi Adam ‘alaihissalām, yang dalam tradisi tafsir dikenal dengan nama Qabil dan Habil. Ketika keduanya diperintahkan mempersembahkan kurban kepada Allah, kurban Habil diterima karena datang dari hati yang bertakwa, sementara kurban Qabil ditolak. Alih-alih introspeksi dan memperbaiki diri, Qabil justru dibakar oleh dengki terhadap saudaranya sendiri, hingga ia mengancam akan membunuhnya.
Habil, dengan kelapangan hati yang luar biasa, menjawab ancaman tersebut bukan dengan balas dendam, melainkan dengan kepasrahan penuh kepada Allah, sebagaimana diabadikan dalam surah Al-Ma’idah: “Sungguh, jika engkau menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu, karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seluruh alam” (QS. Al-Ma’idah [5]: 28). Namun hasad yang telah menguasai hati Qabil ternyata lebih kuat daripada nasihat saudaranya sendiri, dan berujung pada pembunuhan pertama dalam sejarah manusia.
Kisah ini mengajarkan satu pelajaran yang sangat mendalam: hasad, jika dibiarkan tumbuh tanpa kendali, mampu mendorong seseorang melakukan kejahatan yang bahkan tidak pernah terbayangkan sebelumnya, termasuk terhadap orang-orang terdekat yang seharusnya paling dicintai. Qabil tidak mendapatkan apa pun dari kematian Habil, kurbannya tetap tidak diterima, namun dengki telah membutakannya dari kenyataan tersebut, hingga yang tersisa hanyalah kehancuran bagi dirinya sendiri, sebagaimana ditegaskan pada ayat selanjutnya bahwa ia termasuk golongan yang merugi. Penyesalan pun datang terlambat, sebagaimana digambarkan Al-Qur’an bahwa Qabil akhirnya menjadi orang yang menyesal atas perbuatannya, namun penyesalan itu tidak lagi mampu menghidupkan kembali saudaranya yang telah tiada.
Memahami Lebih Dalam
Mengapa Hasad Justru Merugikan Diri Sendiri?
Jika direnungkan secara mendalam, hasad adalah salah satu dosa yang paling tidak masuk akal secara logika sederhana. Seorang pendengki bersusah payah merasa gelisah, marah, dan tidak nyaman, hanya karena melihat orang lain memperoleh kebaikan yang sama sekali tidak diambil darinya. Nikmat yang dimiliki orang lain tidak berkurang sedikit pun rezeki yang telah Allah tetapkan untuk dirinya sendiri, namun ia memilih untuk menyiksa batinnya sendiri dengan perasaan yang sama sekali tidak produktif, sebuah kerugian yang murni tanpa kompensasi apa pun.
Lebih jauh, hasad juga menggerogoti kebaikan pelakunya sendiri melalui konsekuensi perilaku yang ditimbulkannya. Seorang pendengki cenderung mudah tergelincir pada ghibah, mencari-cari aib orang yang didengki untuk menjatuhkan reputasinya, atau bahkan berusaha menghalangi kebaikan yang seharusnya diterima orang tersebut. Setiap tindakan ini adalah dosa baru yang lahir dari benih hasad, sehingga alih-alih merugikan orang yang didengki, hasad justru menumpuk dosa demi dosa pada diri pelakunya sendiri, sementara orang yang didengki bisa jadi tidak menyadari sama sekali bahwa dirinya sedang didengki.
Ada pula dimensi ketakwaan yang tercederai oleh hasad: seorang pendengki, secara tidak langsung, sedang mempertanyakan keadilan pembagian rezeki yang telah Allah tetapkan. Setiap nikmat yang diterima seseorang, baik berupa harta, kedudukan, ilmu, maupun keluarga yang harmonis, adalah hasil dari ketetapan dan hikmah Allah yang Maha Bijaksana. Merasa tidak rela dengan nikmat yang Allah berikan kepada hamba-Nya yang lain, pada hakikatnya adalah bentuk ketidakridaan yang halus terhadap keputusan Allah sendiri, meski jarang disadari sedemikian rupa oleh pelakunya.
Pendengki adalah orang yang paling merugi di antara para pelaku dosa: ia menanggung kelelahan hati di dunia akibat gelisah yang tiada henti, sekaligus menanggung dosa di akhirat akibat ketidakridaannya terhadap pembagian Allah, tanpa memperoleh keuntungan sedikit pun dari kedua penderitaan itu. — Diadaptasi dari Imam Al-Ghazali, Ihyā’ ‘Ulūmiddīn
Renungan ini seharusnya menjadi pengingat yang menenangkan sekaligus menggugah: setiap kali hasad terbersit di hati, sesungguhnya yang paling dirugikan bukanlah orang yang menjadi sasarannya, melainkan diri sendiri. Orang yang didengki bisa jadi hidupnya tetap tenang, nikmatnya tetap utuh, dan sama sekali tidak menyadari bahwa dirinya sedang menjadi objek kedengkian. Sementara itu, si pendengki terus-menerus menyiksa batinnya sendiri, siang dan malam, demi sesuatu yang bahkan tidak pernah benar-benar menjadi miliknya.
Refleksi DiriMengenali Benih Hasad Sebelum Ia Tumbuh Menjadi Api
Karena hasad kerap muncul secara spontan sebagai reaksi emosional, penting bagi setiap muslim untuk melatih kepekaan mengenali benihnya sedini mungkin, sebelum ia sempat tumbuh menjadi sikap dan tindakan yang merusak.
Pertanyaan pertama yang bisa diajukan: bagaimana reaksi spontan yang muncul ketika mendengar kabar baik tentang orang lain, terutama orang yang setara atau berada dalam lingkaran sosial yang sama? Jika yang muncul adalah rasa tidak nyaman, ingin segera mengalihkan pembicaraan, atau bahkan diam-diam berharap kabar itu tidak sepenuhnya benar, ini adalah tanda awal benih hasad yang perlu segera disikapi dengan istighfar dan doa kebaikan untuk orang tersebut.
Pertanyaan kedua: apakah muncul dorongan untuk mengecilkan pencapaian orang lain di hadapan orang ketiga, misalnya dengan berkomentar bahwa keberhasilannya “hanya karena beruntung” atau “tidak seberapa dibanding pencapaian yang lain”? Kecenderungan meremehkan pencapaian orang lain, meski terasa sepele, sesungguhnya adalah salah satu wujud hasad yang paling sering luput dari kesadaran, karena dibungkus dengan nada seolah-olah objektif.
Pertanyaan ketiga: apakah seseorang merasa lega atau bahkan diam-diam senang ketika mendengar kegagalan atau musibah menimpa orang yang selama ini menjadi objek kekagumannya, atau justru objek persaingannya? Perasaan lega semacam ini, betapa pun kecil dan sekilas, adalah sinyal paling jelas bahwa hasad telah bersarang di hati dan perlu segera dibersihkan sebelum tumbuh menjadi sikap yang lebih merusak.
Relevansi Hari IniHasad di Zaman Perbandingan Tanpa Henti
Media sosial, disadari atau tidak, telah menjadi mesin pembangkit hasad yang paling efektif dalam sejarah manusia. Setiap kali membuka linimasa, kita disuguhi etalase kehidupan orang lain yang tampak lebih sempurna: liburan yang lebih mewah, pernikahan yang lebih meriah, karier yang tampak melesat lebih cepat, atau tubuh yang tampak lebih ideal. Perbandingan yang dahulu hanya terjadi dalam lingkup terbatas, kini terjadi setiap saat, dengan jangkauan yang nyaris tanpa batas, terhadap orang-orang yang bahkan tidak kita kenal secara pribadi.
Istilah “iri sosial media” atau social comparison yang berlebihan telah banyak dibahas dalam kajian psikologi kontemporer, dan ternyata sejalan dengan apa yang telah diperingatkan Islam belasan abad silam. Bedanya, jika psikologi modern lebih banyak berbicara tentang dampaknya terhadap kesehatan mental, Islam menambahkan dimensi spiritual yang lebih dalam: hasad bukan hanya merusak ketenangan batin, melainkan juga menggerus pahala dan keberkahan hidup seorang hamba, sesuatu yang tidak selalu tampak dalam pengukuran psikologis semata namun terasa nyata dalam pengalaman spiritual sehari-hari.
Fenomena hasad juga kerap muncul dalam lingkungan profesional dan komunitas keagamaan, tempat yang seharusnya menjadi ladang kerja sama, namun tidak jarang berubah menjadi arena persaingan yang tidak sehat. Seorang pengajar bisa merasa tidak nyaman ketika rekannya lebih diminati oleh murid-murid. Seorang pengurus organisasi dakwah bisa merasa tersaingi ketika kegiatan yang diinisiasi rekannya mendapat sambutan lebih meriah. Padahal, semestinya kebaikan yang tersebar luas, dari siapa pun sumbernya, disambut dengan rasa syukur bersama, karena pada akhirnya semua bermuara pada kebaikan umat secara keseluruhan.
Fenomena hasad juga kerap tumbuh subur di lingkungan yang seharusnya paling dekat dan penuh kasih sayang, yaitu keluarga. Persaingan antar saudara kandung, baik dalam prestasi akademik, karier, maupun perhatian orang tua, bisa menjadi ladang subur bagi tumbuhnya dengki jika tidak dikelola dengan bijaksana. Kisah Qabil dan Habil yang telah kita bahas sesungguhnya adalah pengingat abadi bahwa hasad tidak mengenal batas kedekatan hubungan darah. Orang tua memiliki peran penting untuk mencegah tumbuhnya benih ini sejak dini, dengan tidak membanding-bandingkan anak secara berlebihan satu sama lain, serta menanamkan kesadaran bahwa rezeki dan kemampuan setiap anak telah ditetapkan Allah secara adil, meski dalam bentuk dan ukuran yang berbeda-beda.
Salah satu cara paling efektif untuk melawan hasad di tengah budaya perbandingan yang tiada henti ini adalah dengan secara sadar melatih rasa syukur atas apa yang telah dimiliki, sembari mendoakan kebaikan bagi orang yang tampak lebih beruntung. Ketika seseorang membiasakan diri mengucapkan doa kebaikan setiap kali melihat pencapaian orang lain, alih-alih membandingkan diri, perlahan hati akan terlatih untuk turut berbahagia atas kebahagiaan sesama, bukan justru terluka olehnya.
Memadamkan Api Hasad Sebelum Membakar Diri Sendiri
- Setiap kali mendengar kabar baik tentang orang lain, segera ucapkan doa kebaikan untuknya, misalnya “barakallahu fiih” (semoga Allah memberkahinya), sebagai latihan mengganti perasaan negatif dengan doa yang tulus dan mengalahkan bisikan dengki sebelum sempat berakar.
- Kurangi konsumsi konten media sosial yang secara konsisten memicu perasaan iri dan tidak puas terhadap kehidupan sendiri, dan gantikan waktu tersebut dengan aktivitas yang menumbuhkan syukur, seperti mencatat tiga nikmat harian sebelum tidur.
- Jika mendapati diri mulai membicarakan keburukan atau mengecilkan pencapaian seseorang, segera hentikan dan tanyakan pada diri sendiri: apakah ini murni kritik yang membangun, ataukah dorongan dari hasad yang tersembunyi di baliknya?
- Perbanyak amalan sedekah dan kebaikan kepada orang yang secara alami sulit disukai atau kerap menjadi objek kedengkian dalam hati, karena kedekatan dan kebaikan yang dipupuk secara sengaja akan melunturkan benih-benih dengki secara bertahap.
- Latih diri membedakan antara hasad dan ghibthah setiap kali muncul keinginan memiliki sesuatu yang dimiliki orang lain: jadikan ia motivasi untuk berusaha lebih baik, bukan harapan agar kebaikan orang lain berkurang atau lenyap.
- Rutinkan membaca surah Al-Falaq dan An-Nas setiap pagi dan petang, sebagai bentuk perlindungan harian dari kejahatan hasad, baik yang datang dari diri sendiri maupun yang berpotensi datang dari orang lain.
KhatimahPenutup
Hasad adalah pengingat bahwa Allah telah membagikan rezeki dan nikmat kepada setiap hamba dengan penuh keadilan dan hikmah, meski dalam bentuk yang berbeda-beda. Kufur terhadap keadilan pembagian ini, dengan cara mendengki nikmat yang diterima orang lain, hanya akan mengembalikan kerugiannya kepada diri sendiri, sebagaimana api yang lebih dahulu menghanguskan kayu yang menyalakannya sebelum sempat menjalar ke tempat lain.
Obat paling mendasar bagi hasad bukanlah menahan diri untuk tidak membenci orang yang didengki, melainkan menumbuhkan rasa syukur yang tulus atas apa yang telah dimiliki, disertai kelapangan hati untuk turut berbahagia atas kebaikan yang diterima sesama. Semakin penuh hati seseorang dengan syukur, semakin sempit pula ruang yang tersisa bagi hasad untuk bersarang di dalamnya.
Dari kisah Qabil dan Habil hingga fenomena perbandingan tanpa henti di media sosial hari ini, hasad selalu menawarkan janji palsu yang sama: seolah-olah kebahagiaan diri akan bertambah jika kebaikan orang lain berkurang. Padahal kenyataannya justru sebaliknya, karena hasad tidak pernah mendatangkan apa pun bagi pelakunya selain kegelisahan yang berkepanjangan dan dosa yang terus bertambah, sementara nikmat yang didengki tetap berada di tangan pemiliknya sebagaimana telah Allah tetapkan sejak semula.
Pada artikel berikutnya, kita akan melanjutkan diagnosis penyakit hati dengan membahas ḥubbud-dunyā, cinta dunia yang berlebihan, yang oleh banyak ulama disebut sebagai akar dari hampir seluruh penyakit hati lainnya, termasuk riya’ dan hasad yang telah kita bahas. Semoga Allah membersihkan hati kita dari dengki, dan menjadikan kita hamba-hamba yang senantiasa bersyukur atas nikmat-Nya, sekaligus turut berbahagia atas nikmat yang diterima sesama. Wallāhu a’lam bish-shawāb, dan hanya kepada Allah kita memohon pertolongan. Āmīn.
Referensi (Marāji’)
- Al-Qur’an surah Al-Falaq [113]: 5; Al-Ma’idah [5]: 27–31.
- HR. Muslim, dari Abu Hurairah, tentang larangan saling mendengki (juga dikenal sebagai Hadis Arbain Nawawi ke-35).
- HR. Bukhari & Muslim, dari Ibnu Mas’ud, tentang ghibthah yang diperbolehkan dalam dua perkara.
- Ibnu Katsir. Tafsīr Al-Qur’ān Al-‘Aẓīm, penjelasan kisah dua putra Nabi Adam dalam surah Al-Ma’idah.
- Al-Ghazali, Abu Hamid. Ihyā’ ‘Ulūmiddīn, Kitab Dzammul-Ḥasad. Beirut: Dār al-Ma’rifah.
Pengasuh Pondok Pesantren Amaliyyah Qur’ani yang aktif mendakwahkan penyucian jiwa dan pendidikan hati melalui tulisan, kajian, serta media sosial dengan sapaan @DoktorHati. Melalui Amaliyyah Qur’ani, beliau mengajak umat untuk kembali menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman utama dalam merawat hati, sekaligus menghadirkan kajian tazkiyatun nafs yang membumi dan mudah diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam mengenali dan menjaga diri dari penyakit-penyakit hati seperti riya’ dan hasad yang kerap luput dari perhatian, meski dampaknya begitu nyata dalam kehidupan sehari-hari umat.





