Riya’, Racun Halus yang Diam-Diam Menghapus Pahala Ibadah
Racun paling berbahaya bukanlah yang terasa pahit sejak tegukan pertama, melainkan yang manis di lidah namun perlahan merusak dari dalam—begitulah cara riya’ bekerja dalam ibadah.
Pada penutup pekan pertama seri ini, kita mengenal kisah tiga golongan yang justru menjadi orang pertama diseret ke neraka: seorang mujahid, seorang ahli ilmu, dan seorang dermawan, yang amalnya besar namun hatinya dipenuhi keinginan untuk dipuji manusia. Kisah itu bukan sekadar cerita penutup, melainkan pintu gerbang menuju pembahasan yang akan menemani kita sepanjang pekan kedua ini: mendiagnosis satu demi satu penyakit hati yang paling sering menjangkiti manusia beriman, dimulai dari penyakit yang menjadi akar dari kisah tiga golongan tersebut, yaitu riya’.
Riya’ sering diterjemahkan sederhana sebagai “pamer” atau “ingin dilihat orang lain”, namun terjemahan itu belum sepenuhnya menangkap kedalaman bahayanya. Riya’ adalah penyakit yang begitu halus, hingga pelakunya sendiri kerap tidak menyadari bahwa ia sedang terjangkit. Berbeda dengan dosa-dosa besar yang tampak jelas dan mudah dikenali, riya’ justru bersembunyi di balik amal-amal yang tampak saleh: salat yang khusyuk, sedekah yang dermawan, ilmu yang bermanfaat. Semuanya bisa tercemar riya’ tanpa mengubah sedikit pun bentuk lahiriahnya.
Karena itulah Rasulullah ﷺ menyebut riya’ sebagai sesuatu yang paling beliau khawatirkan menimpa umatnya, bahkan lebih beliau khawatirkan daripada fitnah Dajjal sekalipun, sebagaimana akan kita telusuri dalam hadis di bawah nanti. Sebuah penyakit yang begitu ditakuti oleh manusia paling mulia sepanjang sejarah tentu layak untuk kita kenali lebih dalam, agar kita tidak menjadi golongan yang beramal banyak, namun pulang dengan tangan hampa di hadapan Allah.
Mengapa riya’ dipilih sebagai penyakit pertama yang kita bahas pada pekan ini? Karena riya’ adalah penyakit yang paling dekat dengan ranah ibadah itu sendiri. Ia tidak menyerang dari luar, seperti godaan untuk meninggalkan salat atau melanggar larangan yang jelas, melainkan menyerang dari dalam, tepat pada saat seorang hamba sedang berusaha taat. Musuh yang menyerang ketika kita sedang beribadah tentu jauh lebih berbahaya dibanding musuh yang menyerang ketika kita sedang lalai, karena yang pertama berpotensi merusak amal yang sudah susah payah dikerjakan, sementara yang kedua sekadar mencegah amal itu terjadi sama sekali.
فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
Fa man kāna yarjū liqā’a rabbihī falya’mal ‘amalan ṣāliḥan wa lā yusyrik bi’ibādati rabbihī aḥadā.
“Maka barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, hendaklah ia mengerjakan amal saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.”
— QS. Al-Kahfi [18]: 110
PembahasanRiya’: Ketika Ibadah Berpaling dari Allah menuju Manusia
Secara bahasa, riyā’ berasal dari akar kata ru’yah yang berarti “melihat” atau “penampakan”. Secara istilah, riya’ didefinisikan sebagai upaya seseorang menampakkan ibadah atau kebaikan yang dikerjakannya dengan tujuan agar dilihat dan dipuji oleh manusia, bukan semata mengharap wajah dan keridaan Allah. Ayat di atas menegaskan syarat mutlak diterimanya sebuah amal: dikerjakan dengan cara yang benar (amal saleh) dan tidak dicampuri oleh kepentingan siapa pun selain Allah dalam ibadah tersebut.
Para ahli tafsir menjelaskan bahwa frasa “tidak mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya” pada ayat ini mencakup dua bentuk syirik: syirik besar, yaitu menyembah selain Allah secara terang-terangan, dan syirik yang lebih tersembunyi, yaitu mencampuri niat ibadah kepada Allah dengan keinginan untuk dilihat, dipuji, atau diakui oleh manusia. Bentuk kedua inilah yang dikenal sebagai riya’, dan justru bentuk inilah yang paling banyak menjangkiti orang-orang yang tampak taat beragama, karena ia tidak menampakkan diri sebagai kekufuran, melainkan menyusup di balik amal saleh itu sendiri. Ayat ini turun sebagai penutup surah Al-Kahfi, seolah menjadi kesimpulan akhir dari seluruh kisah panjang tentang ujian keimanan yang diceritakan sepanjang surah tersebut: pada akhirnya, keselamatan seorang hamba bergantung pada dua syarat sederhana namun berat untuk dijaga konsistensinya, yaitu amal yang benar dan niat yang murni.
Sebuah PeringatanRiya’ sebagai Syirik yang Tersembunyi
إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ، قَالُوا: وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: الرِّيَاءُ
Inna akhwafa mā akhāfu ‘alaikumusy-syirkul-aṣghar. Qālū: Wa masy-syirkul-aṣghar yā Rasūlallāh? Qāla: Ar-riyā’.
“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan menimpa kalian adalah syirik kecil.” Para sahabat bertanya, “Apa itu syirik kecil, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Riya’.”
— HR. Ahmad, dari Mahmud bin Labid raḍiyallāhu ‘anhu (dinilai sahih oleh Syaikh Syu’aib Al-Arna’uth)
Hadis ini menempatkan riya’ pada posisi yang sangat serius: syirik kecil. Meskipun tidak mengeluarkan pelakunya dari Islam sebagaimana syirik besar, penggolongan ini menunjukkan betapa riya’ menyentuh persoalan paling inti dalam beragama, yaitu keesaan tujuan dalam beribadah. Ketika seorang hamba beramal sambil menyelipkan keinginan dilihat manusia, pada hakikatnya ia telah “menduakan” Allah dalam ibadahnya, meski hanya dalam kadar yang kecil dan tersembunyi.
Hadis yang sama, pada kelanjutannya, menceritakan sebuah adegan yang sangat menggugah tentang bagaimana Allah memperlakukan para pelaku riya’ pada hari kiamat. Ketika manusia dikumpulkan untuk menerima balasan atas amal-amal mereka, Allah berfirman kepada mereka yang dahulu beramal karena riya’: “Pergilah kalian kepada orang-orang yang dahulu kalian tujukan riya’ kepada mereka di dunia, lalu lihatlah, apakah kalian mendapati balasan pada mereka?” Sebuah teguran yang menohok, karena pada hari ketika manusia paling membutuhkan pahala, para pelaku riya’ justru diarahkan untuk mencari balasan kepada makhluk yang dahulu menjadi tujuan ibadahnya, bukan kepada Allah yang sesungguhnya memiliki seluruh perbendaharaan pahala.
Ada perbedaan penting yang perlu dipahami antara riya’ dan nifak (kemunafikan), meski keduanya sama-sama melibatkan kesenjangan antara yang tampak dan yang tersembunyi. Nifak adalah ketika seseorang menampakkan keimanan padahal hatinya kosong dari keimanan itu sendiri, sedangkan riya’ adalah ketika seseorang memang beriman dan beramal, namun mencampuri niatnya dengan keinginan dilihat manusia. Karena itu, riya’ kerap disebut sebagai “syiriknya orang-orang beriman”, sebuah penyakit yang justru menjangkiti orang-orang yang sudah berada di jalan kebaikan, bukan orang-orang yang jauh dari agama. Inilah yang membuatnya lebih perlu diwaspadai oleh orang-orang yang rajin beribadah, karena semakin taat seseorang secara lahiriah, semakin luas pula ladang yang bisa disusupi riya’ tanpa disadari.
Mengenal Wajah-Wajah Riya’ dalam Beribadah
Riya’ tidak selalu tampil dalam bentuk yang sama. Para ulama akhlak, di antaranya Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihyā’ ‘Ulūmiddīn pada pembahasan Dzammur-Riyā’, menjelaskan bahwa riya’ dapat menyusup melalui berbagai jalan yang berbeda, sehingga penting bagi setiap muslim untuk mengenali ragam wajahnya agar lebih waspada.
Riya’ bisa muncul lewat kondisi fisik, misalnya seseorang yang sengaja menampakkan wajah pucat dan tubuh kurus agar dikira rajin berpuasa dan bertirakat. Riya’ bisa muncul lewat penampilan, misalnya seseorang yang mengenakan pakaian tertentu atau menampakkan bekas sujud di dahi semata agar terlihat sebagai ahli ibadah. Riya’ bisa muncul lewat ucapan, misalnya seseorang yang gemar mengutip ayat dan hadis di setiap kesempatan bukan untuk mengingatkan, melainkan agar dianggap berilmu luas. Riya’ bisa muncul lewat perbuatan, misalnya memanjangkan rukuk dan sujud ketika salat berjamaah semata karena ada orang yang memperhatikan. Riya’ bahkan bisa muncul lewat pergaulan, misalnya seseorang yang sengaja dekat dengan ulama dan orang saleh, bukan untuk mengambil ilmu dan keberkahan, melainkan agar dianggap sebagai bagian dari kalangan tersebut.
Kelima wajah riya’ ini, meski dirumuskan berabad-abad lampau, masih sangat relevan dikenali hari ini dalam bentuknya yang baru. Riya’ fisik bisa berupa unggahan foto ketika terlihat lelah beribadah di tengah malam. Riya’ penampilan bisa berupa pemilihan gaya busana tertentu semata demi validasi sebagai pribadi yang taat. Riya’ ucapan bisa berupa kebiasaan menyisipkan istilah-istilah agama dalam percakapan sehari-hari hanya untuk membangun kesan alim di hadapan orang lain. Riya’ perbuatan bisa berupa memperlama durasi doa di depan jamaah ketika menjadi imam, padahal ketika salat sendirian jauh lebih singkat dan tergesa-gesa. Riya’ pergaulan bisa berupa kegemaran berfoto bersama tokoh agama semata untuk menaikkan citra diri di mata publik, tanpa benar-benar mengambil ilmu dan keteladanan dari kedekatan tersebut.
Memahami Lebih Dalam
Kapan Riya’ Menghapus Pahala, dan Kapan Tidak?
Penting untuk dipahami bahwa tidak semua lintasan pikiran tentang penilaian orang lain otomatis menghapus pahala sebuah amal, karena manusia memang diciptakan dengan kecenderungan untuk peduli terhadap pandangan sesamanya. Para ulama membagi persoalan ini berdasarkan kapan riya’ itu muncul dan bagaimana seorang hamba meresponsnya.
Jika riya’ telah bersemayam sejak awal, menjadi motivasi utama yang mendorong seseorang untuk memulai suatu amal, maka amal tersebut sejak awal telah tercemar dan kehilangan nilainya di sisi Allah, sebagaimana tergambar dalam kisah tiga golongan yang telah kita bahas pada artikel sebelumnya. Namun jika riya’ muncul di tengah-tengah amal yang telah dimulai dengan niat ikhlas, misalnya seseorang yang sedang salat dengan ikhlas lalu tiba-tiba terbersit keinginan agar bacaannya terdengar indah oleh orang di sebelahnya, maka ia wajib segera menepis lintasan tersebut dan mengembalikan hatinya kepada Allah. Selama ia berjuang menepisnya dan tidak menurutinya, amalnya tetap dihitung sebagai amal yang ikhlas, karena Allah mengetahui perjuangan batin hamba-Nya melawan bisikan tersebut.
Adapun jika seseorang telah menyelesaikan suatu amal dengan niat yang murni, lalu setelahnya ia merasa senang karena amalnya diketahui dan dipuji orang lain, tanpa hal tersebut menjadi tujuan sejak awal, maka para ulama menjelaskan bahwa hal ini termasuk bushra, kabar gembira yang disegerakan bagi seorang mukmin, sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Muslim bahwa hal tersebut adalah bagian dari kabar gembira yang Allah berikan di dunia. Yang menjadi persoalan bukanlah rasa senang ketika dipuji, melainkan ketika pujian itu sejak semula menjadi tujuan dan motivasi seseorang dalam beramal.
Meninggalkan amal karena manusia adalah riya’, dan beramal karena manusia adalah syirik. Sedangkan ikhlas adalah ketika Allah menyelamatkanmu dari keduanya. — Al-Fudhail bin ‘Iyadh, dinukil dalam Ar-Risālah Al-Qusyairiyyah
Nasihat masyhur dari Al-Fudhail bin ‘Iyadh ini meluruskan satu kekeliruan yang kerap muncul akibat kekhawatiran berlebihan terhadap riya’, yaitu kecenderungan untuk meninggalkan amal saleh semata karena takut dianggap pamer. Jika seseorang biasa mengerjakan salat duha secara rutin, lalu tiba-tiba berhenti hanya karena berada di lingkungan yang tidak melakukannya dan khawatir dianggap riya’, maka sikap itu sendiri sesungguhnya adalah riya’ dalam bentuk lain, yakni mengubah perilaku ibadah semata karena pandangan manusia. Solusinya bukan meninggalkan amal, melainkan tetap mengerjakannya sambil terus memperbaiki dan menjaga niat agar murni karena Allah.
Doa Perlindungan dari Syirik yang Tersembunyi
Menyadari betapa halusnya riya’, hingga sebagian riwayat menggambarkan geraknya lebih samar daripada langkah seekor semut hitam di atas batu hitam pada malam yang gelap gulita, Rasulullah ﷺ pun mengajarkan sebuah doa khusus untuk memohon perlindungan darinya.
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا أَعْلَمُ
Allāhumma innī a’ūżu bika an usyrika bika wa ana a’lam, wa astaghfiruka limā lā a’lam.
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan menyekutukan-Mu dalam keadaan aku menyadarinya, dan aku memohon ampun kepada-Mu atas apa yang tidak aku ketahui.”
— HR. Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad no. 716 (dinilai sahih oleh Syaikh Al-Albani); HR. Ahmad 4/403
Doa ini mengajarkan dua hal sekaligus: kesungguhan memohon perlindungan dari riya’ yang disadari, sekaligus kerendahan hati untuk mengakui bahwa boleh jadi ada riya’ yang tersembunyi dalam diri, yang bahkan tidak disadari oleh pelakunya sendiri. Kombinasi permohonan perlindungan dan permohonan ampunan ini mencerminkan sikap yang seharusnya dimiliki setiap hamba: berjuang sekuat tenaga melawan riya’ yang tampak, sekaligus tidak pernah merasa aman sepenuhnya dari kemungkinan riya’ yang tak terlihat oleh mata dan pikiran sendiri.
Refleksi DiriMengenali Tanda-Tanda Riya’ dalam Diri Sendiri
Karena riya’ bersifat sangat halus, seseorang perlu melatih kepekaan khusus untuk mengenalinya dalam diri sendiri. Ada beberapa pertanyaan reflektif yang bisa membantu introspeksi ini, meski pada akhirnya hanya Allah yang mengetahui isi hati manusia secara pasti dan menyeluruh.
Pertanyaan pertama: apakah semangat beramal berubah drastis tergantung ada atau tidaknya orang yang menyaksikan? Jika seseorang jauh lebih bersemangat salat berjamaah di masjid yang ramai dibanding salat sendirian di rumah, atau jauh lebih rajin membaca Al-Qur’an ketika berada di tempat umum dibanding ketika sendirian, ini adalah sinyal yang perlu diwaspadai, meski tidak selalu berarti riya’ murni, karena lingkungan ramai memang secara alami bisa menumbuhkan semangat kolektif. Yang perlu diperiksa lebih jauh adalah motif dominan di balik perbedaan semangat tersebut.
Pertanyaan kedua: bagaimana reaksi seseorang ketika sebuah amal besar yang telah dikerjakan tidak diketahui sama sekali oleh siapa pun, bahkan tidak sengaja terlupakan untuk diceritakan? Jika muncul kekecewaan yang besar, atau bahkan dorongan untuk mencari cara agar amal tersebut tetap diketahui orang lain, ini menandakan bahwa pengakuan manusia telah menjadi bagian penting dari motivasi beramal, meski mungkin bukan satu-satunya motivasi yang bekerja.
Pertanyaan ketiga: apakah seseorang merasa lebih nyaman mengerjakan amal-amal yang mudah terlihat, seperti bersedekah di depan umum atau berceramah di hadapan banyak orang, dibanding amal-amal yang secara alami tersembunyi, seperti menahan amarah, memaafkan kesalahan orang lain secara diam-diam, atau mendoakan kebaikan bagi orang yang pernah menyakiti tanpa sepengetahuannya? Kecenderungan yang timpang ke arah amal-amal yang terlihat, dibanding amal-amal yang tersembunyi, patut menjadi bahan muhasabah yang serius bagi siapa saja yang ingin menjaga kemurnian niatnya.
Ketiga pertanyaan ini bukan dimaksudkan untuk menjatuhkan vonis atas diri sendiri, apalagi menimbulkan rasa putus asa. Tujuannya semata membangun kejujuran dan kepekaan, dua modal utama yang dibutuhkan sebelum seseorang bisa benar-benar memperbaiki niatnya. Semakin sering pertanyaan-pertanyaan ini diajukan kepada diri sendiri, semakin terlatih pula kepekaan hati dalam mengenali riya’ sedini mungkin, sebelum ia sempat menggerogoti nilai sebuah amal secara menyeluruh.
Riya’ di Zaman Layar dan Linimasa
Jika pada masa silam riya’ terbatas pada ruang-ruang fisik seperti masjid dan majelis, hari ini riya’ menemukan panggung yang jauh lebih luas dan permanen: media sosial. Setiap unggahan tentang salat tahajud, tangkapan layar khataman Al-Qur’an, atau story ketika menghadiri kajian, berpotensi menjadi ladang pahala jika diniatkan untuk mengajak kebaikan, namun juga berpotensi menjadi jerat riya’ yang jauh lebih berbahaya dibanding riya’ konvensional, karena jejaknya tersimpan permanen dan bisa dilihat berulang kali oleh ribuan orang, memperbesar potensi kebanggaan yang menggerogoti keikhlasan.
Istilah “dakwah performatif” belakangan mulai banyak diperbincangkan untuk menggambarkan fenomena ini: konten keislaman yang diproduksi bukan murni untuk menyampaikan kebenaran, melainkan untuk membangun citra diri sebagai sosok yang saleh, alim, atau dermawan. Godaan ini bahkan bisa menjangkiti para pendakwah dan pengurus lembaga dakwah sekalipun, ketika jumlah like, komentar, dan pengikut mulai dijadikan tolok ukur keberhasilan, alih-alih keridaan Allah dan manfaat yang benar-benar sampai kepada umat. Godaan semacam ini tidak mengenal batas usia maupun jam terbang dalam berdakwah, sehingga kewaspadaan terhadapnya perlu terus dijaga oleh siapa pun yang aktif menyerukan kebaikan di ruang publik, betapa pun luas jangkauan dan pengaruhnya.
Riya’ digital juga hadir dalam bentuk yang lebih halus: kecenderungan untuk hanya beribadah secara “terlihat” ketika berada di ruang publik atau ketika kamera menyala, namun kendur ketika sendirian. Padahal, ukuran paling jujur dari keikhlasan seorang hamba justru terletak pada kualitas ibadahnya saat tidak ada seorang pun yang menyaksikan, di sepertiga malam yang sunyi, atau di ruang kerja yang tidak terpantau siapa pun kecuali Allah semata.
Bukan berarti seluruh bentuk berbagi kebaikan di media sosial otomatis tercemar riya’. Rasulullah ﷺ sendiri mengajarkan bahwa menampakkan amal bisa dibenarkan, bahkan dianjurkan, jika tujuannya adalah untuk mengajak dan menginspirasi orang lain berbuat kebaikan serupa, sebagaimana sedekah yang ditampakkan bisa mendorong orang lain untuk turut bersedekah. Yang membedakan bukanlah tampak atau tidaknya sebuah amal, melainkan niat yang melandasinya: apakah untuk mengajak kebaikan, ataukah untuk membangun citra pribadi sebagai orang saleh.
Salah satu cara sederhana untuk menguji niat di balik sebuah unggahan adalah dengan bertanya pada diri sendiri: seandainya unggahan ini tidak mendapat satu pun tanda suka, komentar, atau pujian, apakah aku akan tetap mengunggahnya dengan perasaan yang sama? Jika jawabannya iya, kemungkinan besar niatnya masih relatif terjaga. Namun jika kekecewaan besar muncul ketika responsnya sepi, itu adalah sinyal bahwa validasi manusia telah menjadi bagian dari tujuan yang sesungguhnya, bukan sekadar efek samping dari niat mengajak kebaikan yang tulus.
Menjaga Hati dari Racun Riya’
- Latih diri untuk memperbanyak amal yang tersembunyi, seperti sedekah yang tidak diketahui siapa pun atau salat malam yang tidak diceritakan kepada orang lain, sebagai latihan menumbuhkan keikhlasan sedikit demi sedikit.
- Ketika terbersit keinginan untuk memamerkan suatu amal di media sosial, tunda dahulu selama beberapa saat dan tanyakan pada diri sendiri: apakah unggahan ini murni untuk mengajak kebaikan, ataukah untuk membangun citra diri sebagai orang saleh?
- Jika lintasan riya’ muncul di tengah ibadah yang sedang dikerjakan, segera beristighfar dalam hati dan kembalikan fokus kepada Allah, tanpa perlu membatalkan atau menghentikan amal yang sedang berlangsung.
- Hafalkan dan amalkan doa perlindungan dari syirik yang telah diajarkan Rasulullah ﷺ, dan jadikan ia bacaan rutin, misalnya setelah salat, sebagai benteng harian dari riya’ yang tersembunyi.
- Sesekali, evaluasi kembali amal-amal yang telah dikerjakan sepekan terakhir: adakah yang terasa hambar dan kehilangan semangat begitu tidak ada yang melihat? Jika ada, jadikan itu titik awal untuk memperbaiki niat pada kesempatan berikutnya, tanpa perlu berkecil hati atau berputus asa.
KhatimahPenutup
Riya’ adalah pengingat bahwa musuh terbesar dalam beribadah bukan selalu datang dari luar diri, melainkan sering kali bersembunyi di dalam hati, menumpang pada amal-amal yang tampak paling saleh sekalipun. Semakin tinggi kedudukan seseorang di mata masyarakat, semakin besar pula godaan riya’ yang mengintainya, karena semakin banyak pula mata yang memperhatikan setiap langkahnya.
Namun sebagaimana telah kita bahas, riya’ bukanlah vonis yang tidak bisa diperbaiki. Ia adalah penyakit yang bisa disembuhkan dengan kesadaran, kejujuran terhadap diri sendiri, dan kesungguhan untuk terus memperbarui niat setiap kali hendak beramal. Justru kesadaran akan bahaya riya’ inilah yang, ironisnya, menjadi salah satu tanda bahwa hati seorang hamba masih hidup dan peka terhadap penyakit-penyakit yang mengintainya. Sebaliknya, hati yang sudah tidak lagi peduli sama sekali pada persoalan keikhlasan, yang menganggap riya’ sebagai perkara sepele yang tidak perlu dipikirkan, justru berada dalam kondisi yang jauh lebih mengkhawatirkan.
Pada artikel berikutnya, kita akan melanjutkan diagnosis penyakit hati dengan membahas hasad, dengki yang diam-diam membakar kebaikan dari dalam diri sendiri. Jika riya’ adalah penyakit yang merusak hubungan seorang hamba dengan Allah, maka hasad adalah penyakit yang merusak hubungan seorang hamba dengan sesama manusia, sekaligus membakar pahala kebaikannya sendiri dari dalam. Semoga Allah membersihkan hati kita dari riya’ yang tersembunyi, dan menjadikan setiap amal yang kita kerjakan murni karena mengharap wajah-Nya semata. Wallāhu a’lam bish-shawāb, dan hanya kepada Allah kita memohon pertolongan. Āmīn.
Referensi (Marāji’)
- Al-Qur’an surah Al-Kahfi [18]: 110.
- HR. Ahmad, dari Mahmud bin Labid, tentang riya’ sebagai syirik kecil (dinilai sahih oleh Syaikh Syu’aib Al-Arna’uth).
- HR. Muslim, tentang bushra (kabar gembira) bagi mukmin yang amalnya dipuji tanpa diniatkan sejak awal.
- Al-Ghazali, Abu Hamid. Ihyā’ ‘Ulūmiddīn, Kitab Dzammur-Riyā’. Beirut: Dār al-Ma’rifah.
- Al-Fudhail bin ‘Iyadh, nasihat tentang riya’ dan syirik, dinukil dalam Ar-Risālah Al-Qusyairiyyah dan Al-Adzkār karya Imam An-Nawawi.
- Ibnul Qayyim al-Jauziyyah. Madārij as-Sālikīn.
Pengasuh Pondok Pesantren Amaliyyah Qur’ani yang aktif mendakwahkan penyucian jiwa dan pendidikan hati melalui tulisan, kajian, serta media sosial dengan sapaan @DoktorHati. Melalui Amaliyyah Qur’ani, beliau mengajak umat untuk kembali menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman utama dalam merawat hati, sekaligus menghadirkan kajian tazkiyatun nafs yang membumi dan mudah diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam mengenali dan menjaga diri dari penyakit-penyakit hati yang kerap luput dari perhatian.






